Sabtu, 23 Mei 2009

kidung anak pembatangan


Kidung Anak Pembatangan

Matahari terik, menyala di tengah peetala langit, membakar sebgit jiwa siapa saja. Hembusan angina tak jua bias mengimbangi panahnya suhu disiang ini. Seandainya tak punya kepentingan tak ada manusia yang mau berlama-lama di luar rumah.

Dari kejauhan kuperhatikan segerombolan kuli pembatangan duduk-duduk, sambil mengelap peluh yang menjalari tubuh mereka. Siang ini seperti siang-siang yang lalu dan entah sampai kapan hal yang sama terjadi berulang kali di kehidupan mereka. Dengan setia kuli-kuli tersebut menunggu mobil-mobil truk berisi kayu, masuk untuk mengisi bansaw-bansaw yang menjerit lapar untuk segera melahap balok-balok maupun sibitan-sibitan kayu gelondongan. Mereka tak pernah peduli dari mana asal kayu-kayu tersebot legalkah atau ilegalkah.

Hari ini aku tersadar, mengapa anak-anak, remaja-remaja, bapak-bapak bahkan ada yang sudah lanjut usia rela berjemur berpanas-panasan bak ikan asin yang dijemur dibakar terik matahari, hanya untuk mengais rezeki. Hilir mudik kendaraan milik makelar menawarkan barang pada bos-bos berduit. Tak kalah bersaing dengan kuli-kuli pembatangan.

Terzikir setiap kali kupandangi mereka, tak terasa bulir-bulir bening menetes disela batang hidungku mengingat orang tuaku adalah bagian dari mereka, bagian dari kuli-kuli pembatagan. Kuli-kuli yang setiap harinya bertaruh nyawa bagaimana tidak sesekali kuperhatikan dengan seksama system kerja mereka tidak ada jaminan keamanan, tidak ada pesangon dihari tua, aku menjerit adilkah ini. Mana gaungnya selama ini hokum, undang-undang tentang buruh? Niihil undang-undang itu hanya berlaku untuk orang-orang yang berjas necis dan berdasi perlente, duduk tenang di singgasananya.

Kadang kute teskan air mataku bila kupandangi wajah lusuh ayahku nerusaha kuat mengayuh sepeda reyotnya bersaing ketat dengan otot-otot kekar dan diantara deru asap motor pesaing berat ayahku, walaupun mereka segrup tetaplah dalam satu grup ada persaingan. Ah, aku ingin marah tapi pada siapa? Aku tak kuasa melihat ketidakadilan arus globalisasi dan takdir Tuhan tentang nasib.

♣ ♣ ♣

Namaku Hafsah, nama yang diberikan orang tuaku 20 tahun silam. Pinggiran desa Liang Anggang adalah desa kelahiranku. Sejak aku lahir kedua orang tuaku menaruh harapan besar padaku. Diriku terlahir bukanlah dari keluarga yang mapan, tapi aku terlahir dari keluarga ysng sangat sederhana, ayahku seorang kuli dan ibuku seorang guru honorer di sekolah Madratsah Ibtidaiyah Swasta, berbekal lulusan Aliyah sudah hamper 25 tahun ibu mengabdi pada guru honorer dengan gaji yang minim. Namun dengan segala keterbatasan keluargaku dalam bidang ekonomi, itu tak berlaku bagi orangtuaku dalam hal pendidikan karena bagi ayah dan ibu, karena ilmulah orang berharga di mata Allah apalagi di mata manusia bukan harta serta materi seseorang tinggi derajatnya tapi ilmu.

Ku sudah terbiasa setiap kenaikan kelas tak pakai baju seragam baru apalagi sepatu baru, bias bayar daftar ulang saja sudah bersyukur Alhamdulillah. Aku juga sudah terbiasa sering tak dikasih uang saku dan hanya bawa bekal nasi dingin itu juga kalau ada sisa makan malam tapi seringnya puasa sih…

Sekarang aku makin tambah kagum dan bangga pada ayah bukan karena ku sudah bias sampai jenjang kuliah pendidikanku. Namun di usia senjanya dia masih berjuang bergelut di usaha yang sama tanpa menyerah dan mengeluh walau kupandangi kulit ayah menjadi keriput dan sayu matanya yang tak lagi bening berganti kekuning-kuningan. Tapi entahlah apa aku harus merasa durhaka di satu sisi aku bangga karena anak seorang kuli pembatangan bias kuliah atau sebaliknya aku durhaka seperti yang segelintir orang-orang cemoohkan kepadaku “tak tau diri kau Hafsah, anak kuli sok kuliah, kawin saja kau bebaslah tanggungan orang tuamu. Mendengar cemoohan itu aku hanya bias diam, kadang ada benarnya, kadang kupikir tau apa mereka tentang nasibku kalau aku sudah kawin apa bias menjamin. Tapi dibalik itu aku selalu teringat ucapan guru Qur’an Hadits waktu di Tsanawiyah dulu “ Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau kaum tersebut tidak merubah”. Sampai kapanpun kata-kata beliau selalu terngiang dikupingku dan kusimpan baik-baik dalam sanubariku, don’t afraid, Allah pasti mau merubah nasibku, semangat desahku dalam dada yang mulai menyesak, oleh himpitan kehidupan.

Ibuku tipe pendiam, namun setiapku berlabuh ke Banjarmasin untuk kuliah selalu beliau berpesan “buat orangtuamu bangga, jangan liat ke atas jadi orang sederhana lebih terhormat daripada jadi orang ada lupa sama Allah. Pesan-pesan ibulah yang menjadi penawar saat racun-racun syetan mulai mengusik dan menjalari keimananku, untuk lalai hidup di Banjarmasin. Sejak aku menginjakkan kaki di Banjarmasin aku sudah berjanji haram bagiku mempergunakan uang kiriman orangtuaku buat hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kuliah. Tidakkah durhaka anak-anak yang menyelewengkan amanah orangtuanya.

Sekarang aku sudah memasuki semester akhir, judul skripsiku telah diseminarkan, garapan skripsikupun sudah 90%. Ayah ibu tinggal selangkah lagi gumamku, hai dunia liat aku seorang anak kuli pembatangan akan jadi sarjana teriakku dalam hati. Ayah, ibu inilah hasil jerih payahmu maafkan aku jika hanya ini balasannya. Kata-kata final yang akan ku katakan nanti tatkala aku pakai baju wisuda. Dan berdiri tegak di atas podium tatkala namaku disebut Hafsah binti Suriadi. Juga ingin kuteriakkan keseluruh angkasa agar seluruh makhluk bersorak, bumi berguncang, bunga-bunga bertebaran dari langit, angina semerbak berembus, dan para malaikat bertasbih dari segala tingkatan langit bersuka ria, menyaksikan tetes air mata kebahagiaanku dan orang tuaku. I love you so much my parent’s.

2 komentar: